MEMAAFKAN

“Apakah ini suatu pengkhianatan? Atau aku yang terlalu melancolis mba’?” Tanya seorang gadis paruh baya padaku ketika kami sedang duduk dibangku tepi jalan kota.

Langit sudah menampakkan mega senjanya, mataharipun sudah mulai menenggelamkan separuh dirinya. Ramainya jejalan kota dan hiruk pikuk pengunjung kota senja itu menenggelamkan kesedihan gadis itu. Wajahnya murung, padahal ia begitu terlihat riang ketika hendak menyambut datangnya hari itu. Peristiwa pagi itu menjadi awal kemurungannya meskipun sesekali ia sembunyikan dengan gelak tawa dan gurauan pada teman-temannya, yang pada kenyataannya penuh dengan keterpaksaan.

Perjalanan yang awalnya sangat ia harapkan menjadi membosankan membuatnya tak peduli dengan indahnya panorama alam yang terlukis sepanjang jalan. Pagi itu langit mendung, melukiskan perasaan yang baru saja bersemayam dihatinya. Ia menatap jendela dengan kosong, entah apa yang menari-nari dalam pikirannya. Seorang temannya menyeletuk “udah, tinggalkan sementara beban yang yang ada dipundak kita.. Hari ini kita seneng-seneng, gunakan waktu sebaik-baiknya. Esok, kita pikirkan kembali…”

Setelah mendengar perkataan tersebut, ia mencoba memudarkan rasa perihnya. Mencoba merekahkan senyuman demi senyuman untuk menghilangkan perihnya. Meskipun awalnya sulit, lama-kelamaan ia menikmatinya. Sedikit demi sedikit rasa perihnya terobati. Sesampai kota tujuan, berbagai panorama ia nikmati. Memandang langit yang mulai cerah, memandang ombak yang sesekali menerjang kokohnya batu karang, pepohonan rimbun dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Seolah tak terjadi apapun pagi tadi.

Sekawanan nelayan baru saja naik dari perairan dengan rasa bahagia membawa hasil tangkapannya. Bahagia mulai terpancar dari wajahnya. Betapa sederhananya kebahagian disaat kita melupakan perihnya goresan luka yang baru. Luka itu akan segera mEngering, harapnya.
Ternyata perkiraannya salah. Sore itu ia mendapatkan luka itu kembali, yang awalnya hendak mengering kini malah menganga. Itulah awal ia mengisahkan perasaannya hari itu.

“Ia yang telah membuat perjanjian itu mba’, akan tetapi ia malah meninggalkanku begitu saja.” Baik, kita mulai dari diri kita dulu. Apakah kita sudah berusaha menepati janji yang telah kita buat untuk orang lain? timpalku. “Orang lain yang bisa menilai mba’, selama ini kurasa sudah kumaksimalkan dalam hal menepati janji dengan oranglain. Aku berusaha sebisa mungkin untuk selalu menepati janji, meskipun nantinya orang yang aku janjikan kepadanya berhalangan.”

Jika memang kamu sudah berusaha untuk selalu menepati janji, maka ma’afkanlah ia. Boleh jadi ini ujian untuk kamu, seberapa sabar kamu menghadapinya. Anggap saja permasalahan seperti ini sebagai pembiasaan hati kamu agar menjadi lebih tegar lagi. Disaat kamu menghadapi kehidupan yang lebih nyata, banyak sekali rintangan yang harus kita hadapi. Berbagai macam orang yang berbeda karakter ada dihadapan kita. Tugas kita adalah menyesuaikan diri kepada masing-masing karakter yang berbeda-beda itu. Bukan tugas yang mudah bukan?

Coba kita flashback seribu empat ratus-an tahun lalu, Rasulullah betapa lapangnya ketika beliau diludahi setiap hari ketika berjalan menuju ka’bah. Hingga suatu hari beliau tidak mendapati orang yang biasa meludahi beliau, ternyata orang tersebut sakit. Betapa mulianya akhlaq beliau, beliau menjenguk orang yang setiap hari meludahinya. Maka, kita sebagai ummatnya patut mengikuti akhlaq beliau.

Memang, rasa sakit dan kecewa pasti ada. Namun itu semua hanya ephemera, sementara saja dek.. Tak perlu terus menerus dipikirkan, cukup menuliskannya diatas pasir pantai saja agar nantinya akan larut bersama gelombang ombak yang menderu. Jadikan apa yang terjadi sekarang sebagai pelajaran untuk hidup kita. Kita memilah-pilah mana yang harus kita pertahankan dan mana yang harus kita hapus. Bencilah sikapnya saja, tak perlu kita membenci orangnya. Sebagaimana kita mengikuti petuah-petuah orang tanpa melihat siapa yang berkata. Semua akan terasa indah jika kita berlapang dada..

“Baik mba’, mungkin aku memang harus memperbaiki diri dan terus membiasakan diri dengan sikap orang-orang yang memang berbeda-beda karakternya.” Saling mengingatkan ya dek.. imbuhku untuk mengakhiri dialog kami. Sedang langit sudah menenggelamkan mega merahnnya, mataharipun sudah benar-benar menenggelamkan diri…

#pelajaran berharga

Postingan populer dari blog ini

ISTIQOMAH SAMPAI HUSNUL KHOTIMAH

TAKLIM YUUK..

KESEMUAN YANG NYATA

LANGIT...